Cari

PutriManthili

Jangan biarkan PUTUS ASA menguasai kita :)

Unknown

Tiada rasa yang ingin terucap
Tiada batin yang ingin terpendam

Ingin berkata ya namun tak mampu
Bahkan jika berkata tidak pun bibir tak sanggup

Pundak semakin berat
Pikiran kian tak karuan
Entahlah..
Hanya mampu melapangkan dada 🙂

Iklan

Mencintai? Dicintai?
Dua kata yang tentunya semua orang pernah dengar. Mungkin banyak yang mengerti maknanya, ataukah mungkin banyak yang belum memahaminya.
Ya, ini adalah hidup.
Banyak orang bilang hidup adalah pilihan. Ataukah pilihan untuk tetap hidup?

Kembali lagi dengan 2 kata unik tadi, mencintai – dicintai. Kenapa saya bilang dua kata tersebut unik? Well, hampir dari kita semua pasti pernah mendengar beberapa orang yang menjadikan kata itu sebuah topik, mungkin juga suatu pertanyaan. Contohnya saja, ada dua orang perempuan yang telah bersahabat sejak kecil dan tiba-tiba si A menanyai sahabatnya, si B.
A  : “Kamu pernah terpikir jika suatu saat nanti kamu berada dalam keadaan yang memaksamu untuk memilih?”
B  : “Maksudnya? Keadaan yang seperti apa dan memangnya aku harus memilih apa?”
A  : “Iyaa, kalau saat nanti kamu harus memilih mencintai atau dicintai? Apa yang harus kamu katakan? Lalu kalau kamu mencintai seseorang namun orang yang kamu cintai itu tak juga mencintaimu? Atau mungkin kamu harus mencintai seseorang yang tak kamu cintai, namun orang itu sudah jelas mencintaimu?”

Sudah bukan hal yang asing di telinga tiap-tiap yang mendengar maupun membacanya. Namun bagi saya sendiri, kedua hal itu tak beda jauh. Anggap saja ketika kita memilih dicintai, bisa saja kita bahagia. Namun juga tak luput kalau bisa saja kita menyakitinya karena sikap kita yang suatu saat lupa diri dan menganggapnya remeh.

Sebaliknya, ketika kita memilih mencintai kita juga bisa bahagia tentunya. Akan tetapi sakit hatipun juga tidak berarti bisa luput dari kita. Bahkan kedua orang yang saling mencintai juga belum bisa dikatakan akan selalu bahagia dan terbebas dari sakit-menyakiti.

Namun hingga detik ini saya hanya bisa mensyukuri.
Ya, mensyukuri bahwa tiap apa yang kita beri tak harus selalu berimbalan kepada kita, termasuk rasa cinta atau sayang. Sebab bagi saya adalah mudah, tetapi bukan berarti memudahkan. Hanya saja saya menganggap ketika kita melakukan segala sesuatu dengan rasa sayang dan ikhlas maka semuanya akan terasa menyenangkan dan bukan beban yang kita rasakan. Ups, saya lupa satu hal. Ikhlas adalah kunci utama kita dari rasa beban yang mungkin akan membelenggu. Akan tetapi bukan ikhlas jika kata itu masih terucap di bibir.

Masa itu..

Tanpa foto
Tanpa kenangan
Hanya memori yang tersisa

Aku tidak banyak berharap
Aku cukupkan
hanya dengan mengenang
Mengenangmu yang kini di tempat antah brantah

Tidak menginginkan kau kembali
Tidak..
Mengingatmu,
cukup membuatku tersenyum simpul

Tingkahmu yang lucu
Tawamu yang kencang
Senyum lesung pipitmu yang khas

Ahh..
Seakan aku ingin kembali
ke masa itu
Masa disaat malu bukan penghalang
untuk kita tersenyum lebar

Aku tak mampu membalas apapun
Berucap terimakasih pun tak mampu

Oh tidak,
bukan aku tak berterimakasih
Namun memang keadaanlah
yang tak mengijinkanku

Terimakasih
untuk waktumu
Terimakasih
untuk kebaikanmu

Aku masih menanti
dengan kemungkinan yang tak pasti 🙂

Hijau itu…

GIF 15Bismillaahirrohmaanirrohiim 🙂
Teruntuk sahabat-sahabatku di Gamais ^^

Bukan bermaksud ber-lebay ria, akan tetapi memang ini yang aku rasakan. Karena perasaan ini tak mampu jika hanya terkuak melalui untaian kata.

Bergabung dengan Gamais karena ingin perkuat keimanan diri sendiri, tapi tak bisa dipungkiri jika kita tetap mencari zona kenyamanan dan menambah silaturahmi. Namun sayangnya, saat itu aku belum menemukan titik nyamanku, dimana dititik itu aku akan bertahan mengalahkan satu alasan demi beribu alasan lain. Harus ku akui, aku lebih egois pada diriku sendiri. Aku yang mementingkan kondisi tubuhku yang memang seperti ini adanya daripada merasakan kehangatan dan kenikmatan tertawa bahagia bersama kalian. :’)

Ya, aku memang bodoh. Menyianyiakan setengah tahun lebih perjalanan Gamais 2015 hanya karena terkonsen pada diri sendiri. Akan tetapi aku bersyukur, sebab dengan seperti itu aku mampu mengerti apa yang seharusnya tidak aku lakukan lagi.

Hijau itu…
Akan selalu menjadi hijau yang menyejukkan 🙂

Terima kasih sahabat, kalian tak hanya sekedar sahabat. Kalian adalah keluarga penghilang duka sekaligus penimbul tawa. Semoga takkan pernah lekang oleh waktu 🙂

Harmonis?

Senin, 18 Januari 2016. Entah karena apa, hari itu terasa begitu gerah. Gerah hati? Gerah pikiran? Aku tak pernah mengerti.
Yang aku ingat, malam itu belum terlalu gelap. Dan aku masih terpaku di depan notebook menanti kabar darinya. Namun akupun tak pernah tahu, tiba-tiba 2 kata yang ia ucapkan seakan membekukan. 2 kata itu adalah “Hubungan Harmonis”.

Dari mana dan sebab apa yang membuatnya seketika menjadi sosok yang men-judge apakah hubungan itu harmonis atau tidak. Sedangkan aku pun yakin bahwa ia tidak pernah benar-benar paham dengan makna yang sesungguhnya mengenai kata “Harmonis”.

Dilain sisi aku sendiri belum mengerti makna kata itu. Akan tetapi, bagiku sebuah kata harmonis adalah kata yang memiliki makna relatif. Relatif bagi tiap-tiap yang mengartikannya.

Bagaimana dengan tolok ukur “Harmonis”? Yang ada, aku hanya tertawa dan menangis dalam batin. Kenapa begitu? Ya tentulah aku menangis dalam batin. Sepasang suami istripun akan selalu bertengkar dalam segala kemungkinan keadaan yang ada, terlebih lagi jika hubungan itu hanyalah hubungan sepasang kekasih yang sebenarnya sama sekali belum memiliki ikatan. Ikatan sepasang kekasih hanya mereka reka-reka sendiri, karena pada dasarnya memang tidak pernah ada yang membuat peraturan mengenai “Pacaran”.

Sering kali aku membayangkan, bagaimana jika “Harmonis” sepasang suami istri pun memiliki tolok ukur yang berbeda? Ketika bagi si suami “Harmonis” itu adalah segala hal yang bisa membuatnya senang. Sedangkan bagi sang istri, “Harmonis” adalah suaminya yang bisa mengerti luar dalam. Alangkah indah jika mereka saling mengerti dan memenuhi apa yang disebut kriteria menjadi sebuah “Hubungan Harmonis”, lalu mereka saling mengisi. Namun jika yang terjadi adalah keangkuhan pada diri masing-masing? Jika sang suami tidak mau mengerti dan tidak saling mengisi keinginan bersama sang istri? Akankah tolok ukur “Harmonis” masih akan tetap menjadi tolok ukur? Mungkin aku hanya mampu tersenyum dalam batin.
Bukankah hal itu hanya menjadi suatu kesia-siaan? Bersia-sia hanya karena keegoisan masing-masing.

Memang aku tak pernah tahu apa itu “Harmonis”, jika yang selama ini aku rasakan pun tidak selalu indah. Ya, bisa dikatakan pahit yang terlalu melebihi porsinya. Namun aku bahagia dan aku justru bersyukur. Karena kepahitan yang menegarkan aku hingga saat ini.

Andai suatu saat nanti hadir kembali pertanyaan mengenai “Hubungan Harmonis”, aku tak mampu menjawab sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Mungkin aku hanya mampu menjawab, “Hubungan Harmonis” bukan lagi tentang kata romantis. Bukan pula mengenai sanjungan yang menyenangkan hati. Akan tetapi adalah cara manajemen diri untuk menghadapi masalah yang mungkin sedang kita hadapi. Singkat kata, mengalah dengan pasangan. Mengalah bukan karena kalah. Akan tetapi mengalah karena “Saya Menghormati Anda”. Tak perlu lagi untuk memaksakan karena jika kesadaran hadir dalam diri, tentu akan timbul sikap yang seharusnya dan tentu yang terbaik. 🙂

Rencana Allah

DEDEK

Jakarta, 12 Desember 2015. Ya, hari dimana ada rasa duka sekaligus bahagia dalam diri kami. Keluarga Simbah Martosuwito Nogosari, begitu kami sering menyebutnya.

Belum kering tanah makam nenek kami, Simbah Putri Sudjiati. Kabar yang seperti masih tak mampu dipercaya, tapi apalah daya. Namun, kami mengerti bahwa semua adalah kuasa-Mu, yaAllah 🙂

Saat itu jam dinding masih menunjukkan pukul 23.00, tepat persis saya sampai di rumah setelah perjalanan dari Semarang ke Magelang. Belum hilang penat, bapak yang terbangun dari sofa ruang tengah seketika menyampaikan pesan yang penuh tanda tanya. Dengan logat Jawa Solonya beliau berkata dengan hati-hati. Seperti tak mampu berkata apa-apa, hanya kata “Innalillahi wa inna ilaihiroji’un” yang langsung terucap dari mulut. Masih terdiam dan terus terdiam. Mataku tertuju pada televisi, namun pikiranku melayang ke beberapa tahun yang lalu.

Isnue Mudho Firmanto, sesosok laki-laki yang saya tau adalah laki-laki lembut hati, tutur, maupun sikapnya. Dari dia-lah aku mulai merasa kagum. Dia bukan kakak kandung, bahkan kami tak terlalu dekat ketika dewasa. Namun dia-lah yang membuatku mengerti tentang ikhtiyar dan tawakal setelah orang tua saya. Tentu. Dia adalah bagian keluarga yang tak pernah kekurangan materi, tapi ia tak pernah tinggi hati. Seorang yang begitu mencintai alam dengan hobinya yang tak pernah abstein dari kegiatan menjelajah.

Dari dia juga saya mengerti bahwa berjuang tak hanya di bibir. Berjuang dengan sikap, berjuang dengan ibadah, dan berjuang dengan hal yang menghasilkan ladang kebaikan. Berpuasa Daud, saya mengenal itu pun dari dia. Hingga dia mampu sukses juga bukan tanpa perjuangan.

Dia juga kakak yang tak pernah lelah mendukung adik ataupun saudaranya. Sungguh mulia hatinya :”

Tak heran jika banyak hati yang mungkin terpikat padanya. YaAllah, aku pun sepertinya telah berdosa, yang pernah merasa memiliki hati kepadanya. Ya, terhadap kakak sepupuku sendiri. Subhanallah, maafkan Putri YaAllaah 😦

Berlanjut hari Minggu tanggal 13 Desember 2015, di Jakarta pukul 08.00 telah lahir seorang bayi laki-laki dari seorang rahim wanita bernama Isna Mariam yang kini menjadi Kakak Ipar Sepupuku. Terlahir telah tanpa ayah. Paras nan rupawan, tanpa sedikitpun dosa padamu nak. Ia bernama Abdullah Hasan Khaisanu.

2 hari berturut-turut adalah rencana Allah yang mungkin telah tertulis pada Lauh Mahfudz-Nya. Wallahu’alam.

Seindah apapun rencana yang kami reka, pastilah rencanaMu yang jauh indah yaAllah. Semua misteri hanya Engkau Yang Maha Mengetahui.

Semoga Abdullah Hasan Khaisanu mampu meneruskan kebaikan hati ayahnya, Isnue Mudho Firmanu, kelak dan menjadi sosok yang kuat seperti ibunya, Isna Mariam. Aamiin aamiin aamiin YRA 🙂

Ukhibukifillah ^^

10

Semarang, 09 Januari 2016~

Sebelum genap satu tahun melangkah

Seperti dibayang-bayangi rasa itu

Mungkin sungkan

Atau bahkan takut?

Tak mampu mendikte apa yang sudah terlewati

Yang aku tau,

Aku mulai merasakan kenyamanan

Sebelum persis berpisah dengan mereka

Sedih? tentunya

Tapi semua telah berlalu

Kini tlah ku mulai lembar yang baru

Bersama mereka, bertambah keluarga baru

cc : Mba Ummi, Mbapit, Mba Aya, Pungky, Ari, Intan, Eka, Ayak, Pipin, Ayuk, Riza, Rizka, Fina 🙂

Ukhibukifillah cantik 🙂 Semoga selalu terjaga hingga kapanpun ^^

Tuhan Maha Romantis

Menjadi seorang penulis, arsitek, designer, seniman, duta, dan serentet citaku ketika menghapus inguspun masih belum mampu.

Pernah berjuang menjadi seniman, keadaan tak mendukungku.

Ketika mencoba menggapai mimpi menjadi arsitek, tak lagi keadaan itu memberiku kesempatan.

Dan, akhirnya memilih untuk mewujudkan menjadi penulis. Aku lebih menyerah dengan keputus asaan yang membelengguku.

Namun semangat kembali hadir. Ketika seorang kawanku, sebut saya dia -Anita- 🙂

Dia menceritakan sesosok pria, sederhana, namun kokoh pendirian.

Ya, Kak Azhar Nurun Ala.

Beliau seorang penulis novel, salah satunya yang berjudul “Tuhan Maha Romantis”.

Kata yang beliau tuangkan tak menggurui, tak menghardik, dan tak merendahkan.

Siapapun yang membaca bukunya, akan merasakan sensasi yang berbeda.

Barakallah Kak Azhar Nurun Ala 🙂 Semoga suatu saat bisa menjadi sepertimu kak 🙂

Putri Manthili

Mengingat kata “Putri Manthili”, slalu membuatku rindu akan sosok pria gagah tegas namun hatinya selembut sutera.

Beliau yang slalu ku sapa dengan sebutan Pakde Mardjo.

Entah mengapa aku slalu tersipu malu ketika beliau menyapaku dengan “Putri Manthili”. Sempat terbesit dalam benak, apa karena kecentilanku ketika masih kanak-kanak? atau karena memang sebutan di Solo?

Entah aku tak pernah mengerti maksud itu.

Yang pasti, beliau sosok yang INDAH. Salah satu diantara beberapa orang yang ku sayangi.

Namun kini beliau telah tenang di sisiNya, aku yakin Allah menempatkan beliau yang terbaik.

Meskipun raga tak lagi berjumpa…

Namun…

Kami merindukanmu, Pakde ku sayang 🙂

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑